232

“Assalamualaikum Paklik, Bulik.” Aku menyapa Paklik dan Bulik pagi itu di kediaman mereka.

Kediaman yang selalu membawa damai dan tentram bagiku. Kediaman yang bagiku bukan sekedar tempat tinggal, melainkan rumah untukku. Kehadiran Bulik, Paklik dan adikku Dhea membuatku lebih bersemangat menjalani hidup pasca bercerai dari Jordy. Walau baru sebentar kembali ke Yogya, namun bahagiaku jauh lebih terasa di sini, dibanding saat aku berada di Jakarta.

Aku mendapati Bulik dan Paklik sudah berpakaian rapi, sepertinya mereka akan menginap di sebuah tempat. Pikirku saat itu, mereka pasti akan mengunjungi sanak keluarga Paklik di Surakarta, mengingat keluarga besar Beliau menetap di sana.

“Mau ke Solo ya, Bulik?” tanyaku kemudian sembari melangkah mendekati Bulik dan membantunya membereskan koper.

“Ng...” Bulik tersenyum sesaat. “Yang kali ini enggak, Ri. Mau jalan-jalan aja sebentar.” Ia tersenyum lembut.

“Kemana, Bulik?” “Ah, kalo yang itu... rahasia dong.” Dari ruang makan, Paklik berceletuk. Aku mengekeh lalu menatap Paklik dan menyalami punggung tangannya sopan.

“Segala pake rahasia-rahasiaan sama Riri,” kataku berpura-pura merajuk.

“Biar lebih privat, kapan lagi Bulikmu mau diajak dolan,” ujarnya sambil sembunyi-sembunyi melirik Bulik.

“Hahahah, Paklik. Ada-ada aja. Tapi masa gak mau kasih tau Riri?” bujukku sekali lagi dengan tampang memelas.

“Kamu kayak Idan aja, penasaraaanan banget.” Senyumku lenyap dalam sesaat, sebab setiap kali membahas Aidan, otomatis pikiranku akan tertuju padanya juga Jordy yang semalaman tadi memintaku untuk tidak mematikan telepon

Paklik menatapku sejenak, air mukanya terlihat khawatir. “Ri, maaf ya? Paklik gak maksud...”

“Nggak apa-apa, Paklik,” kataku memaklumkan. “Riri pesenin grab/gojek ya?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Gak usah Ri, nanti ada yang jemput.”

“Oh...” tanggapku sambil mengangguk. “Kalau gitu, Riri bawain sekalian koper Paklik ke depan ya.”

“Iya, Nduk. Makasih ya.”

Mobil jemputan yang akan mengantar Paklik dan Bulik tiba tepat waktu. Aku yang sedang sibuk membereskan koper sampai sedikit terkejut lantaran pengemudi mobil itu turun dan memanggil namaku.

“Mbak Riri, sehat Mbak? Lha, malah ketemu di sini...”

Aku memandang supir tersebut keheranan. Wajahnya tampak tidak asing, namun entah mengapa aku justru tak mampu mengingat siapa lelaki yang menyapaku itu.

“Ah, lupa dia...” kekehnya. “Iya, maaf ya, Pak. Tapi apa kita pernah kete—”

“Mas, ini tas saya.. Tolong dibantu naikin ya. Makasih, Mas.” Sayang sekali aku tak sempat mengetahui nama supir tersebut. Tapi rasanya kok aku pernah melihat dia sebelumnya ya? Sepertinya aku sering melihatnya mondar-mandir di ruang ekspedisi kantor. Tapi aku lupa siapa namanya.

“Bulik duluan ya, Ri. Hati-hati di rumah. Ingat, shalat jangan ditinggal. Tahajud-nya juga.”

“Iya Bulik, hati-hati juga ya, Bulik. Berkabar kalau sudah sampai tujuan.”

“Iya.” Aku menyalami punggung tangan Bulik kemudian mengantarnya sampai ke mobil.

Tunggu. Mobil ini juga pernah kulihat di kantor sebelumnya. Aku pernah melihat mobil Xtrail ini...mengantarkan equiptment ke lokasi syuting. Tapi kok, platnya sudah sesuai dengan plat Yogyakarta ya?

Ah, mungkin saja aku hanya berhalusinasi. Syukurnya sih, tidak ada yang mengataiku gila sekarang.'